ANALISIS GAYA TOKOH HUSEIN JA'FAR AL HADAR

 Hai WiNews! kalian tau ngga? dalam dunia komunikasi, gaya komunikasi seorang tokoh dapat menjadi cerminan kepribadian, latar belakang, serta strategi mereka dalam berinteraksi dengan publik. Gaya komunikasi yang efektif tidak hanya mampu menyampaikan pesan dengan jelas, tetapi juga membangun koneksi emosional dengan audiens. 

Analisis gaya komunikasi seorang tokoh penting untuk memahami bagaimana mereka mempengaruhi dan membentuk opini publik, serta bagaimana mereka dapat memanfaatkan komunikasi untuk mencapai tujuan mereka. Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang berbagai gaya komunikasi tokoh inspirasi yaitu Habib Husein Ja'far Al Hadar dalam ceramahnya di Youtube. penasaran? yuk kita bahas selengkapnya!

ANALISIS GAYA KOMUNIKASI DAKWAH HABIB HUSEIN JA’FAR AL HADAR DALAM CERAMAHNYA DI YOUTUBE


Husein Ja’far Al Hadar lahir di Bondowoso, Jawa Timur pada tanggal 21 Juni 1988. Beliau memiliki keturunan Madura dan juga memiliki garis keturunan Nabi Muhammad. Habib Husein Jafar menempuh pendidikan pesantren di pondok pesantren Bangil Jawa Timur, lalu lulus sebagai seorang sarjana filsafat Islam (S.Fil.I) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta mengambil jurusan Akidah dan Filsafat Islam dan juga mengambil S2 jurusan Tafsir Quran tahun 2016-2020 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Habib Husein Jafar Al-Hadar lahir dari keluarga yang terkenal religius dengan ayah dan ibu keturunan Arab, seorang Habib dan Syarifah. Ayah Habib Husein bernama Ja’far dan marganya adalah Al-Hadar, dan juga kakek-nenek Habib Husein merupakan keturunan Arab. Dan dalam keluarga Habib Husein mempunyai suatu tradisi yang unik, yaitu mengoleksi sebuah buku.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas Habib Husein adalah seorang kolektor banyak buku dam juga Habib gemar menulis dari kecil, sehingga tidak heran Habib Husein merupakan penulis buku keIslaman terbitan Gramedia dan Mizan, menulis di Media Massa seputaran keIslaman (Kompas, Majalah Tempo). Seiring kesuksesan beliau dalam dunia dakwah Habib mendapatkan perhatian dalam hati masyarakat itu terjadi setelah beliau menerbitkan buku yang berjudul “Tak Di Ka’bah, Di Vatikan Atau Di Tembok Ratapan”. dan juga buku yang berjudul “Tuhan Ada Di Hatimu”, yang mendapat sambutan positif dari masyarakat, dan yang terbaru diterbitkan “Seni Merayu Tuhan”

Beliau juga menjadi pembicara seputar keIslaman di TV Nasioanal (Metro TV, CNN Indonesia). Lalu menjadi direktur Cultural Islamic Academy Jakarta dan Aktivis di gerakan Islam cinta. Dalam beberapa tahun ini nama Habib Husein Jafar makin populer di jagat media sosial dan juga media per-Televisian, itu terbukti dengan semakin seringnya Habib Husein muncul di layar Youtube dan juga layar TV. Contohnya seperti pada salah satu Channel Youtube Login yaitu Talkshow berbalut toleransi beragama, maupun dengan kelompok lain yang tayang setiap bulan Ramadhan. Program yang di pandu oleh Habib Jafar dan Onad. Tentunya ada beberapa Podcast lain yang di mana Habib berkolaborasi dengan anak-anak muda membahas isu-isu terkini atau pertanyaan-pertanyaan milenial yang dijelaskan menurut pandagan Islam oleh Habib Husein Jafar. Selama Ramadhan kemarin Habib Husein banyak mengisi acara-acara dan masih banyak acara-acara lain yang mengundang Habib Husein menjadi bintang tamu di TV. Husein Ja'far memilih media sosial sebagai media dakwah adalah untuk menghadirkan pilihan baru ditengah maraknya konten negatif. Tujuan utamanya dalam berdakwah di media sosial memang hendak menyasar anak-anak muda yang dekat dengan dunia digital.

Definisi Gaya Komunikasi
Gaya komunikasi (communication style) dapat didefinisikan sebagai seperangkat perilaku antar pribadi yang terspesialisasi digunakan dalam suatu situasi tertentu. Saphiere, Hofner, Mikk dan DeVries mendefinisikan gaya komunikasi sebagai cara seseorang berkomunikasi, sebuah pola perilaku verbal dan nonverbal saat kita memberikan dan menerima pesan dalam sebuah situasi tertentu. Lebih dari itu, gaya komunikasi itu juga bersifat khas, ia tidak dapat berlaku pada seluruh manusia secara sama, tetapi lebih mencerminkan karakter pribadi dan budaya.
Gaya komunikasi menjelaskan bagaimana cara kita berperilaku ketika kita mengirim dan menerima pesan. Setiap gaya selalu mencerminkan bagaimana setiap orang mengekspresikan dirinya ketika berinteraksi dengan orang lain.

Bentuk Gaya Komunikasi
Heffner memberikan klasifikasi ulang gaya komunikasi dari McCalister. Dia mengelompokkan gaya komunikasi menjadi tiga, yakni aggressive, passive, assertive style. Lebih detailnya akan dijelaskan sebagaimana berikut : 

1) Gaya Komunikasi Assertive Style
Assertuve style adalah gaya komunikasi dimana komunikator membuat pernyataan secara langsung yang disertai dengan pertimbangan perasaan, ide, dan harapan. Komunikator dengan gaya ini memiliki kemampuan untuk mendengarkan dengan baik sehingga membiarkan orang lain mengetahui bahwa ia didengarkan. Gaya komunikasi ini terbuka dalam melakukan negosiasi dan kompromi, bisa menerima dan memberikan komplain, serta memberikan perintah langsung. Saat perilaku pribadi menyangkut dalam emosi yang tepat, jujur, relatif terus terang, tanpa perasaan cemas pada orang lain. Adapun ciri-ciri assertive Style dalam gaya komunikasi sebagai berikut: efektif dan aktif mendengarkan, sedikit pernyataan, selalu ada pengharapan, menyatakan pengamatan, bukan memberi label atau penilaian, ekspresi diri secara langsung, jujur dan segera, sering menggunakan humor.

2) Gaya Komunikasi Aggressive Style
Aggressive style adalah gaya komunikasi di mana komunikator cenderung menyatakan perasaannya dengan mudah mengenai apa yang diinginkannya, apa yang dipikirkan, tetapi sering mengabaikan hak dan perasaan orang lain. Komunikator jenis ini seringkali menyakiti orang lain dengan kalimat sarkastik atau bercanda yang berlebihan. Gaya agresif sering menunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Sehingga kadang-kadang di dalam menyampaikan pesan bukan hanya dalam bentuk kata-kata tetapi juga diiringi dengan bahasa tubuh yang menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya. Adapun ciri-ciri aggressive style dalam gaya komunikasi sebagai berikut: bersifat tertutup, cenderung sedikit mendengarkan, sering melakukan interupsi, cenderung memonopoli pembicaraan.

3) Gaya Komunikasi Passive Style atau Non Assertive
Passive style adalah gaya komunikasi di mana komunikator tidak mengekspresikan perasaan, ide, dan harapannya secara langsung. Dalam gaya ini, komunikator cenderung akan banyak tersenyum dan lebih banyak menyampaikan kebuTuhannya kepada orang lain. Komunikator juga cenderung melakukan tindakan dibandingkan mendengarkan. Gaya pasif cenderung menggunakan suara yang lemah lembut, serta sering berhenti berkata-kata. Adapun ciri-ciri passive style dalam gaya komunikasi sebagai berikut: tidak langsung menyampaikan gagasan, selalu sepakat, tidak pernah berbicara lebih dulu, cenderung ragu-ragu.

Analisis Gaya Komunikasi Husein Ja'far Al-Hadar saat dakwah di Youtube yang berjudul “Agungnya Meminta Maaf & Memaafkan: Belajar dari Nabi & Sahabat”



Selama ini Husein Ja’far Al Hadar memanfaatkan berbagai media sosial sebagai wadahnya dalam berdakwah, mulai dari facebook, twitter, Tiktok, Instagram serta Youtube. Kanal Youtubenya yang diberi nama "Jeda Nulis" dibuatnya di tahun 2018 dengan video pertamanya yang diunggah berjudul “Menjadi Muslim Moderat itu Bagaimana sih?”. Video tersebut hingga saat ini sudah ditonton sebanyak 56 ribu kali. Video ceramahnya yang berjudul “Agungnya Meminta Maaf & Memaafkan: Belajar dari Nabi & Sahabat” yang diunggah pada tanggal 2 Mei 2020. Video itu berisi ceramah tentang belajar dari kisah Nabi dan sahabat dalam membentuk pribadi yang mau meminta maaf dan memaafkan ketika berbuat salah. Ceramah dibangun dengan teknik bercerita, yang mengangkat kisah Nabi Muhammad menjelang wafatnya. Dalam video ceramah tersebut berdurasi 12:05 menit.

Bentuk Gaya Komunikasi Dakwah Husein Ja'far Al-Hadar
Bentuk-bentuk gaya komunikasi sebagai alat analisis, maka dakwah Husein Ja’afar dapat dilakukan eksplorasi lebih jauh seperti apa gaya komunikasi yang dilakukan. Khususnya pada ceramahnya yang berjudul “Agungnya Meminta Maaf & Memaafkan: Belajar dari Nabi & Sahabat”. Untuk menganalisis, maka akan diuraikan pesan-pesan yang disampaikan pada ceramah itu berdasarkan gagasan pesannya dengan melihat kecenderungan ciri-ciri bentuk gaya komunikasi yang digunakan.

Setelah di uraikan penjelasan masing-masing gagasan pesan, dapat dipahami bahwa secara konsisten Husein Ja’far menggunakan bahasa-bahasa sederhana dan tidak ada bahasa-bahasa tinggi. Juga penyampaian pesan ceramahnya tidak menunjukkan pesan-pesan yang dapat membuat komunikan dapat tersinggung atau tersakiti atas pesan yang disampaikannya. Di samping itu, pada beberapa bagian juga ditunjukkan adanya pengharapan yang diberikan agar masalah komunikan dapat terpecahkan dengan memberikan solusi atas masalah yang terjadi. Husein Ja’far mempertimbangkan pesan dakwahnya yang disampaikan dengan pertimbangan ide, perasaan dari komunikan dan harapan kepada komunikan. Dengan itu, dakwah pun dibangun dengan narasi pesan yang cenderung informatif tanpa menghakimi atau memberi label-label negatif. Pesan informatif disampaikan berbasis apa yang diamati dan dikuatkan dengan cerita atau kisah Nabi dan sahabat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa gaya komunikasi dakwah Husein Ja’far tersebut cenderung mengarah pada gaya asertif (assertive style). Juga tidak ditemukan satupun ciri dari gaya agresif ataupun pasif dalam ceramah itu. Sejauh ceramah disampaikan dalam durasi video 12:05 menit, sekalipun tidak ada gaya komunikasi yang menunjukkan sikap agresif yang tidak memedulikan ide atau pikiran atau perasaan. Tidak juga didapati gaya komunikasi yang terlalu pasif sehingga tidak menunjukkan harapan-harapannya sebagai pendakwah.

Komunikasi dakwah Husein Ja’far dalam ceramahnya berjudul “Agungnya Meminta Maaf dan Memaafkan: Belajar dari Nabi dan Sahabat” adalah bentuk komunikasi yang satu arah melalui media Youtube. Oleh sebab itu, untuk secara konsisten dengan prinsip-prinsip gaya asertif, Husein Ja’far memang menyampaikan pesannya dengan sangat efektif. teknik penyampaian yang begitu santun, lemah lembut dan tidak menghakimi, dalam ceramahnya itu Husein Ja’far tetap tampak seolah-olah mendengarkan apa yang menjadi kegelisahan atau harapan komunikan. Husein Ja’far seolah berkomunikasi secara empat mata dengan komunikan.

Lalu, Husein Ja’far juga tidak memasukkan aspek humor sebagaimana kecenderungan komunikasi asertif dilakukan. Namun, tanpa adanya humor tidak menurunkan kualitas komunikasi ceramahnya menjadi kehilangan atensi. Husein Ja’far lebih mengandalkan pengamatannya yang di sampaikan melalui nasihat dan informasi penting. Hal tersebut secara konsisten disampaikan tanpa labeling, secara jujur dan segera, menunjukkan gaya komunikasi asertif. Jika memperhatikan ceramah Husein Ja’far yang senantiasa menggunakan bahasa yang sederhana dan cara penyampaiannya yang penuh kerendahan hati, ajakan atau seruan juga disampaikan secara halus, komunikan digiring dengan kisah yang disampaikan, sehingga persuasinya tidak terasa agresif namun penuh kerendahan hati. Cara demikian selain juga karena mempertimbangkan keadaan komunikan tampaknya juga untuk mempertahankan gaya asertif yang tidak menyakiti atau menyinggung. cara-cara demikian terbukti cukup ampuh menarik perhatian, di mana respon dari pemirsa video cukup antusias. Selain itu, dari berbagai komentar mereka juga terlihat bahwa mereka menyimak video tersebut sampai selesai.

Lebih lanjut, dalam komunikasi dakwah Husein Ja’far yang cenderung asertif juga menekankan sisi kemampuannya dalam menarasikan cerita (storytelling). Dari segi konsepsi gaya komunikasi asertif, menarasikan cerita hikmah, Mengingat gaya komunikasi asertif sangat menekankan agar komunikator untuk menyuarakan haknya, baik dalam hal mengutarakan pikiran, gagasan ataupun perasaannya kepada orang lain. Dalam konteks ceramah di Youtube ini, Husein Ja’far tentu menyadari dan amat memanfaatkan haknya itu dalam hal menyampaikan pesan dakwah berupa gagasan ataupun ajakannya. Namun, tetap dalam gaya asertif yang tidak menyinggung, penuh kerendahan hati tetapi tetap tegas dan efektif dalam menyampaikan pesan. Hal itu tercermin dari pesan-pesan verbal Husein Ja’far yang selalu diikuti oleh gestur, ekspresi wajah, volume, dan intonasi suara yang dinamis. Dalam ceramahnya di YouTube, ia cukup ekspresif saat mengisahkan cerita Nabi dan sahabat. Penerapan gaya komunikasi dakwahnya melalui storytelling berhasil, sehingga materi dakwah disampaikan secara terukur dan menarik dengan gaya komunikasi asertif.


Paper ini dibuat, guna memenuhi tugas pada :
Mata Kuliah : Corporate And Human Relations
Dosen Pembimbing : Dosen Pembimbing : Elpa Hermawan S.Ikom,MM
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Kampus : Universitas Bina Sarana Informatika Margonda

Winda Nurhafifah 
44220759

Komentar